Demonstrasi

Sebenarnya saya ingin nge-post tulisan ini pada tanggal 1 mei biar bertepatan dengan mayday (hari buruh), tapi karena filenya kelupaan simpen dimana dan banyaknya kerjaan baru bisa di post sekarang deh. Mudah-mudahan tema tulisannya tidak terlalu basi yaitu tentang demonstrasi. Saat ini yang namanya demo/demonstrasi pasti identik dengan macet, kerusuhan, anarkis, dan hal-hal negatif lainnya. Demonstrasi atau unjuk rasa sendiri menurut saya dapat diartikan sebagai tindakan protes yang dilakukan kelompok tertentu di depan umum. Biasanya ada pendapat atau hal yang ingin disampaikan ke publik. Kelompok yang sering melakukan demonstrasi adalah mahasiswa, buruh, dan kelompok lainnya.

Di Indonesia sendiri, demonstrasi menjadi sering terjadi sejak kejatuhan orde baru. Orde baru sendiri tumbang oleh gerakan demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh mahasiswa negeri ini. Kemudian euphoria demo berlanjut kepada banyak elemen masyarakat mulai dari buruh, lsm, dan mahasiswa. Demonstrasi sendiri adalah hal yang lumrah karena masyarakat di Indonesia diberi kemerdekaan untuk berpendapat di muka umum (UU no 9 tahun 1998). Bahkan rasanya, masyarakat sendiri sudah apatis dengan gerakan demo yang biasanya tidak jauh dari hal-hal negatif.

Saya sendiri waktu masih kuliah merupakan mahasiswa yang cukup aktif mengikuti perkembangan sosial-politik negeri ini tetapi tetap fokus dalam kuliah dan mengerjakan tugas. Apalagi saya kuliah di Universitas yang membawa nama bangsa, jadi wajib bagi saya untuk peduli dan ikut aksi dalam beberapa polemik bangsa ini. Walau tidak aktif di BEM kampus, tapi saya cukup aktif di BEM Fakultas. Menurut saya pribadi, demonstrasi adalah salah satu pembelajaran untuk menyampaikan pendapat di alam demokrasi saat ini. Sebelum ikut demo, saya pun selalu mencari tau “isu” yang diangkat oleh kawan-kawan mahasiswa. Tetapi saya tetap tidak mendukung demonstrasi yang anarkis dan merusak fasilitas umum. Saya pun memiliki beberapa pengalaman yang terkadang unik saat demo dengan aktivis kampus.

Yang paling menarik adalah pada tahun 2007, ketika kami demonstrasi langsung di dalam gedung MPR/DPR, menuntut tentang kenaikan anggaran pendidikan sebesar 20%. Karena isu yang diangkat menarik bagi saya, saya ikutlah bersama rombongan masuk ke dalam gedung MPR/DPR RI. Gedung MPR/DPR RI sendiri dalamnya sangat mewah menurut saya, fasilitasnya tidak kalah dengan hotel bintang 5. Saya dan perwakilan mahasiswa diperbolehkan masuk karena sudah izin, dan ditempatkan di atas bareng dengan teman-teman media.

Yang mengagetkan saya pada saat sidang penentuan untuk memutuskan kenaikan anggaran itu, hanya sedikit anggota dewan yang hadir. Rupanya anekdot bahwa kehadiran anggota dewan yang suka bolos benar adanya. Setelah beberapa jam yang sangat membosankan, akhirnya ketua sidang memutuskan untuk menunda kenaikan anggaran pendidikan. Spontan senior saya yang “idealis” segera mengeluarkan spanduk tentang pentingnya kenaikan anggaran pendidikan dan berteriak-teriak kepada anggota dewan agar segera menaikan anggaran untuk masa depan bangsa.

Suasana pun segera ricuh, pasukan keamanan gedung MPR/DPR segera menghadiahi kami, mahasiswa dan mahasiswai dengan bogem mentah. Kami pun segera membentuk lingkaran agar tidak kocar-kacir dan segera diusir paksa oleh pasukan keamanan tersebut, dengan beberapa bogem mentah yang melayang ke arah kami. Yang paling parah ya senior saya yang mengeluarkan spanduk tsb, beliau dihajar berulang kali sampai rebah dan mesti digotong keluar. Sesampainya diluar kami menerikan yel yel perjuangan dan kawan-kawan media pun mengabadikan kami, bukan untuk tenar tetapi agar rakyat Indonesia tau kami berjuang mendesak DPR RI menaikan anggaran pendidikan tsb demi masa depan bangsa kelak.

Lima tahun kemudian (2012), anggaran pendidikan benar-benar dinaikan menjadi 20% dari APBN. Terlihat bukan, bahwa terkadang perjuangan itu membutuhkan waktu dan tenaga (plus bogem mentah). Bayangkan jika kami tidak demo untuk menuntut kenaikan tersebut, kapan lagi anggaran pendidikan bisa naik? Kapan lagi adik-adik kita bisa sekolah dengan gratis (untuk beberapa daerah sudah gratis sampai tingkat SMP bahkan SMA). Intinya adalah saya ingin agar pembaca umumnya dan saya pribadi khususnya lebih menghargai mereka yang demo secara damai dan santun, yang demo dengan tulus untuk rakyat. Jika demonstrasinya adalah orang bayaran dan anarkis, ke laut aja deh!

Lagi belajar orasi

Lagi belajar orasi

rekan-rekan seperjuangan

rekan-rekan seperjuangan

2 responses to “Demonstrasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s