Hujan

   Memasuki bulan Januari, Jakarta dan sekitarnya biasanya akan memasuki puncak musim hujan. Tahun 2007 dan 2013 lalu bahkan sempat ada kejadian banjir yang melumpuhkan daerah-daerah strategis Ibukota. Nah setelah saya baca-baca berita tentang iklim, kalau tahun ini (2014), mungkin hujan gak separah 2007/2013. Hal ini dikarenakan adanya gelaja “Polar Vortex” yang bikin Amerika Serikat kena musim dingin yang parah (sampai -40’C). Karena saat ini udara dingin sedang mengalir ke Amerika, maka aktivitas udara dingin di Siberia belum dimulai. Biasanya, aktivitas dingin di Siberia mempengaruhi jumlah curah hujan di Indonesia, yang dapat menyebabkan bencana banjir.

ThamrinHujan di jalan MH Thamrin, Jakarta

   Nah waktu kecil jika ada kesempatan hujan-hujanan saya sangat bergembira. Entah kenapa mandi ujan lbh mengasyikkan daripada mandi yg biasa di lakukan.  Saya sempat dilarang mandi hujan ketika masih duduk di bangku TK dengan alasan, kata mama “nanti kamu sakit, mandi ujannya klo udah SD aja”. Nah begitu masuk SD saya pun menagih janji tersebut dengan mandi ujan sepuasnya (tidak sering juga sih hanya klo lagi pengen saja). Menurut rumor juga, air hujan yang langsung turun dari langit itu menyehatkan dan bisa diminum.

Ketika kuliah semester 2, saya tertarik dengan salah satu mata kuliah yaitu Meteorologi dan Klimatologi. Setidaknya kalimat tersebut agak keren untuk didengar, walaupun bahasannya gak jauh2 dari curah hujan hehe.  Mata kuliah ini ibarat oase ditengah mata kuliah wajib fakultas yg membuat saya jungkir balik untuk sekedar lulus. Disuatu perkuliahan, saya ingat betul dosen saya berkata bahwa air hujan adalah berkah dan bencana. Saya sebagai pendengar yang baik hanya manggut2 saja (selain karena saya duduk di bangku belakang dengan suara dosen yg samar2 terdengar). Tiba2, salah satu teman saya angkat tangan (bukan krn dicopet). Berikut percakapan antara dosen (dos S) dan teman saya (mas J)

Dos S     : “yak ada yang ingin kamu tanyakan mas X?”

Mas J     : “pak kenapa bapak berpendapat bahwa hujan itu bencana?”

Dos S     : “begini mas, hujan klo pada intensitas relatif sedang akan membawa air yang cukup untuk semua kehidupan di bumi, namun jika intensitasnya tinggi maka yang ada adalah kejadian2 bencana seperti banjir, longsor, dll (sambil menunjuk slide presentasi”

Mas J     : “tapi pak, hujan itu kan rahmat dari Allah kepada makhluk-Nya. Mengenai faktor banjir dsb menurut saya itu adalah kesalahan manusia dalam merencanakan bla bla bla”

(saya persingkat saja karena terjadi perdebatan yg cukup seru antara dosen saya yg ilmiah dan teman saya yg agamis yang diakhiri dengan keduanya  “kekeh” dengan pendapat masing2 dan yang lain hanya cengo)

Ramadhan hari ke-4  tahun 2011. Saat itu terjadilah hujan deras yang membuat mushola dekat rumah saya tidak ada kultum sblm tarawih sebab ustadznya berhalangan karena hujan. Lalu tiba2 mc bercerita sedikit tentang pengalaman hajinya di makkah. Di Makkah tepatnya di Masjidil Haram, suatu saat ketika sang mc sedang tawaf (prosesi haji) tiba2 hujan turun dengan derasnya. Kemudian sang mc mengamati ada beberapa orang yang berteduh, sedangkan manusia lainnya menjalankan tawaf walaupun sedang hujan deras. Setelah diamati, gerombolan orang yang menepi tadi adalah orang2 Indonesia dan orang2 yang melanjutkan tawafnya adalah orang2 arab dan ras lain.

Konon orang arab sangat bersuka cita kalau terjadi hujan.  Selain karena iklim gurun yang membuat Curah Hujan rendah, orang arab juga sangat yakin kalau hujan itu rahmat dari Allah. Bahkan pemerintah Arab Saudi pun membangun saluran air yang besar di bawah tanah untuk menampung air hujan, yang akan digunakan jika membutuhkan. Di Singapura pun juga membangun hal yang sama dan menghijaukan negaranya agar air hujan yang turun dapat digunakan secara maksimal. Di Malaysia, pemerintah sana membangun banyak gorong-gorong untuk menampung air agar tidak banjir, jika dimusim kemarau airnya kering, gorong-gorong tersebut bisa digunakan untuk jalan

Coba bandingkan di Indonesia, kalau hujan turun pasti akan dihindari (saya juga merasa tersindir). Hal ini membuat hujan adalah sesuatu yang kita jauhi sehingga tak heran banjir dimana2. Air hujan yg turun di “paksa” mengalir ke laut dengan proyek2 kanal yang berharga mahal. Jika hujan saja dijauhi, bagaimana rahmat Allah mau datang.  Kemudian mc menutup sedikit kultumnya untuk melanjutkan solat tarawih.

                Bagi saya, ceramah tadi sangat “menggelitik” karena sangat ironi. Saya yang tinggal di daerah tropis yang sangat akrab dengan hujan merasa tidak suka dengan kedatangannya. Padahal hujan mengandung banyak manfaat bagi kita yang mungkin belum merasakan dampaknya secara langsung. Jadi anda suka atau kurang suka dengan hujan???

Wallahu alam bis showab

kota

Hujan di daerah Jakarta Kota

sawarnaHujan di Sawarna, Banten

gunung salakHujan di Gunung Salak

 

8 responses to “Hujan

  1. Informatif sekali tulisannya, Hilman!

    Saya kok baru baca? Coba dari kemarin-kemarin, pasti gak ngomel2 karena hujan hehehe..

    Adakah hubungan “Polar Vortex” dengan “La Nina”? Saya pikir biasanya disebabkan oleh “La Nina” sehingga baiknya kita mencontoh Arab Saudi dan Singapura dengan menampung air hujan. Ditakutkan saat “El Nino” nanti kita malah krisis air.

    Oia, mengenai hujan sebagai berkah dan bencana, saya setuju hujan adalah berkah sepenuhnya. Ingat gak Hukum Kekekalan Energi? Hujan itu ya sebenarnya putar2 aja kan? Namanya juga siklus hidrologi. Disebut bencana karena ada manusianya. Hujan di Afrika menjadi berkah, di Indonesia menjadi bencana. Itu murni salah manusia sendiri yang merusak alam sehingga mereka melihat hujan sebagai bencana. Padahal hujan adalah cara Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan air yang tidak dapat kita minum menjadi air tawar. Subhanallah wal hamdulillah. Sayangnya karena polusi, kita tidak bisa seperti di masa kecil, mandi sambil minum air hujan😀.

    • Saya nulis karena suka ngedumel jg sebelumnya..
      Tp sekarang sih agak lbh wise, karena alasan2 diatas..

      Krg tau hubungan Polar Vortex sm La Nina, dulu metklim gak belajar sejauh itu haha..
      Cm klo keadaan anomali cuaca kyknya berhubungan satu sama lain..
      Udah masuk iklim global soalnye..

      Pendapat saya tetep berkah sih, bayangin aja negara tanpa hujan jadinya ya gurun..

      Inget gak wkt belajar ttg DAS..
      Sempadan sungai itu emg tempatnya banjir..
      Nah di Jkt liat sendiri sempadan sungai 80% jadi pemukiman..

      Kyknya gak usah banyak2 ngomong hujan di Indo..
      Selama pemerintah blm bener ya slm itu apapun gak bener haha..
      Setelah era Soekarno, rata2 aparatur cm dia mikirnya diri sendiri dan keluarganya..
      Rakyat? Sabodo teing haha..

      “ ….Kami turunkan dari langit air yang amat bersih.” (QS Al Furqan 25:48)
      kutip dr status mas kus, kyknya air hujan tawar tp krg tau jg di jakarta bisa diminum atau nggak hehe..

  2. Tentu saja di Indonesia atau negara manapun sebaiknya jangan langsung diminum karena polusi yg semakin meningkat. Malah bisa jadi berbahaya. Air tawar terbaik yg sudah jatuh ke bumi dan itu juga harus diproses agar lebih terjamin bagi kesehatan kita.

    “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat hujan, maka beliau berdoa, “ALLAHUMMA SHAYYIBAN NAAFI’AN (Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang deras lagi bermanfaat).” (HR. Al-Bukhari no. 1032)

    Sepertinya kalau setiap hujan turun dan semua muslim di Indonesia baca doa ini bisa jadi mengubah keadaan ya? Selain tentunya juga melakukan usaha seperti komit gak buang sampah di sungai dan gak tinggal di sempadan sungai.

    Rada kasihan sama Pak Jokowi sebenarnya. Banjir kali ini kan penyebab petinggi-petinggi sebelum beliau. Eh, yg disalahin malah beliau. Lebih parah disuruh minta maaf. Aneh gak tuh?

    Hmm, saya agak syok dengar kabar walikota Depok tolak usul Pak Jokowi utk bangun danau. Sebenarnya esensi geografi (cara pikir holistic / big picture) sangat baik diterapkan di segala aspek kehidupan. Permasalahan banjir disebabkan DA Ci Liwung. Harusnya tidak bisa diselesaikan per wilayah administratif, tetapi seluruh wilayah DA Ci Liwung lah yg sebaiknya kerjasama menyelesaikan masalah ini. Kemanakah semangat gotong royong? Miris lihat kondisi begini.

    Saya pikir, harusnya kurikulum Geografi di Indonesia sebaiknya gak usah lah kasih materi seribet universitas. Intinya aja dulu bagaimana cara pikir Geografi yg holistic itu bisa dijiwai oleh para siswa. Cara pikir ini sangat penting untuk mengubah bobroknya planning pemerintah saat ini.

    Yak, ceramah siang hari Jumat pun selesai hahahahah😄

    • Polusi kn cuma ada di kota besar, menurut saya indikator paling mudah liat suatu kota berpolusi atau tidak lihat aja bintang-bintang pada malam hari, kalau terlihat jelas polusinya dikit.
      Kembali lagi ke peradaban kak, klo msh rendah mau gimana pun masyarakatnya tetap rendah hehe..
      Tapi ada juga sih contoh kecil kyk filipin yang bisa benahin sungai yg tadinya kumuh jadi bersih.

      Saya gak mau komen ttg Jokowi or Walkot Depok, soalnya bukan pendukung salah satu pihak dan bukan penghujat juga, netral deh.
      Soalnya saya udah skeptis sama media saat ini, all the news are full of shit😀

      Klo menurut saya justru ajari dulu moral dari SD-SMA.
      Klo pelajaran lain bisa koq 2-3 tahun diajari, tapi klo moral itu perlu 5 tahun lebih.
      Kan klo moral sudah baik, Insya Allah masyarakat juga baik.
      Masyarakat baik, so pasti sadar lingkungan (gak buang sampah sembarangan), gak cepet terprovokasi, dan berbagai kebaikan lainnya hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s