Trip ke Ujungkulon

Ketika masih kuliah, tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya untuk bepergian ke Ujungkulon sekalian mencari ide untuk skripsi saya kala itu. Mulai lah saya mencari-cari informasi menuju kesana. Setelah dapat beberapa informasi dan bertanya ke teman saya yang pernah kesana berangkatlah saya dan kawan saya menuju Ujungkulon. Saya berangkat dari Jakarta menuju Serang, tepatnya ke Terminal Pakupatan. Setelah sampai disana, saya langsung mencari kendaraan elf yang akan membawa saya menuju Ujungkulon.

Pantai-1

Perjalanan ke Ujungkulon adalah salah satu perjalanan darat yang lama yang pernah saya alami. Kira-kira sekitar 12 jam dari Serang untuk sampai kesana. Biaya pun jika kita adalah orang luar agak lebih mahal dibanding orang lokal. Saya ke Ujungkulon bukan untuk melihat badak dan masuk ke Taman Nasional (mesti izin pula ke balai taman nasional klo mau lihat badak) tapi hanya untuk menikmati pantainya. Jika ingin menikmati pantai di sekitar Ujungkulon datanglah ketika musim panas (Mei-Agustus), karena jika musim hujan ombak cukup besar dan terkadang banjir di beberapa tempat.

Pantai 2

Sebelum sampai ke desa yang berbatasan dengan Taman Nasional, saya mampir dulu ke Sumur, sebuah Kota Kecamatan di dekat Ujungkulon. Saya mampir untuk bertanya dan menggali informasi tentang Ujungkulon. Kebetulan saya bertemu dengan Pak Camat saat itu yang bernama Pak Lili. Beliau sangat baik dan terbuka untuk berdiskusi mengenai potensi daerah bahkan beliau mengajak saya untuk menginap disana, karena memang hari sudah larut malam.

Hotel Sarang Badak

 Di daerah Sumur ada beberapa hostel/guesthouse, yang paling saya ingat yaitu Hotel Sarang Badak, kebetulan di dekat Sumur ada tempat wisata yaitu Pulau Umang. Tetapi Pulau Umang saat ini telah menjadi “tempat eksklusif” karena ada semacam perusahaan travel yang menjalankannya. Jika ingin kesana mesti reservasi dari jauh-jauh hari. Rumah makan cukup banyak di daerah sini. Hal ini dikarenakan adanya pelabuhan untuk nelayan kecil sehingga keadaan cukup ramai.

Pantai Paniis

 Keesokan harinya saya pamit dan meneruskan perjalanan ke Desa Paniis dan sekitarnya dengan ojek. Desa Paniis sendiri adalah desa terakhir sebelum masuk Taman Nasional Ujungkulon (TNUK). Sesampainya disana saya sempat bermain-main di pantai yang kosong.  Setelah puas, saya nongkrong sebentar di warung isi pulsa. Kebetulan penjualnya ramah dan saya pun ngobrol banyak dengan dia. Namanya Toni, setelah itu kami mampir ke rumahnya dan bertemu dengan saudaranya yang bernama Robi. Makin lama kami makin akrab dan Bang Robi menawari untuk menginap di rumahnya, karena elf cuma lewat satu kali yaitu jam 5 pagi. Ternyata benar adanya bahwa kalau mencari sosok orang Indonesia yang ramah dan murah senyum, datanglah ke tempat terpencil yang jauh dari kota.

Pulau Umang

8 responses to “Trip ke Ujungkulon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s