Lika liku travelling di Jogja

Seperti yang kita ketahui bahwa Jogjakarta atau Yogyakarta adalah salah satu ikon pariwisata nasional. Saya pun pernah mengunjunginya yang pertama bersama ayah,ibu,dan adik saya ketika SD (sekitar tahun 1996) dan yang kedua ketika kuliah yaitu pada tahun 2009. Yang paling berkesan ya tentu pas kuliah karena kita ke Jogja ala backpacker dengan modal pas-pasan karena ternyata banyak “pengalaman baru” yang didapat.

Pengalaman tidak mengenakan pertama pas berada di kereta ekonomi tujuan st. Lempuyangan. Diantara st. Senen – st. Bekasi, kami tidak henti-hentinya didatangi oleh pengamen yang memaksa untuk meminta uang kepada penumpang. Kemudian aja juga kelakuan aneh yaitu menyemprotkan pengharum ruangan berbau menyengat ke kami terus meminta imbalan. Teman saya yang kaget tiba-tiba malah dihardik sm oknum tersebut, karena kami bersepuluh lalu pasang wajah galak, akhirnya oknum tersebut menjauh sambil memaki-maki kami.

Tidak sampai disitu saja, keesokan harinya ketika sampai di st. Lempuyangan, kami yang tidak berbahasa jawa pun menjadi sasaran empuk para sopir yang mengantar kami ke penginapan. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh tetapi kami seakan diajak muter-muter dan diturunkan di hostel yang bukan tujuan kami, sepertinya ada kerjasama pihak motel dan sopir2 gelap di lempuyangan. Tujuan kami adalah penginapan murah di daerah Kotagede tapi kami diturunkan di dekat Malioboro. Untungnya karena kami banyak dan ada teman saya yang galak sehingga sang supir pun mengantar lagi kea rah kotagede.

parangtritis

                Sesampainya di Kotagede pun kami segera mandi dan beres-beres  untuk siap2 berangkat ke Pantai Parangtritis. Kami lalu naik semacam metromini ke terminal, dari terminal kita naek bis yang ke arah Parangtritis. Didalam bis ada 2 orang bule dan beberapa penduduk lokal. Ada perbedaan harga bagi bule, turis domestic, dan penduduk lokal.  Supirnya tidak menagih kami dan tiba2 muncul perasaan tidak enak. Benar saja, ketika sampai kami diantar sampai dekat pantai, sang supir pun dengan semena2 mengatakan bahwa kami mencarter bis ini dan menaikan ongkos jadi berkali-kali lipat. Saya lupa berapa naiknya, pokoknya hal ini membuat rombongan kami geram.  Akhirnya karena kesal, kami berpikir sekalian saja mencarter bis ini beneran untuk mengantar kami pulang. Sang supir pun setuju sehingga dia menunggu kami bermain2 di pantai.

Satu hal yang menarik di Parangtritis selain pantainya adalah penampakan Sand Dune, atau gumuk pasir yang menghampar luas sehingga mirip gurun. Gumuk pasir ini hanya ada dua di dunia yaitu di Mongol dan di Parangtritis. Karena kondisinya mirip gurun tak heran di Parangtritis itu panasnya menyengat. Setelah puas main air kami pun makan dan segera pulang. Dalam perjalanan pulang pun kita naek bis yang sama dan minta turun di Malioboro sekalian jalan2 malem dan mampir ke masjid agung Jogja.

trolol in jogja

(saya yg pake kaos merah :p)

                Setelah puas liat2 di Malioboro kita makan lesehan di trotoar dan kemudian dinyanyiin deh lagu kla-project yang tentang jogja, jadi makin memorable. Setelah makan kami pulang naek TransJogja, ternyata asyik juga dan sampai penginapan pun kita langsung bobo. Besoknya kita mau ke Candi Borobudur yang terletak di Magelang. Kali ini tanpa tipu2 dan ongkos pun normal, tetapi bule tetap saja dimahalin. Setelah turun ternyata kami mesti jalan lagi atau naek delman menuju candi. Kami pun memilih naek delam biar terasa liburannya. Sesampainya di Borobudur, pintu masuk turis asing dan domestic di pisah. Kita bayar 30ribu sedangkan turis bayar 135ribu seingat saya. Kami pun masuk dan menikmati relief2 di Borobudur, setelah puas kami pun segera beranjak pulang. Ditengah perjalanan kami mampir ke reruntuhan patung2 borobudur. Kami pun segera naek bis yang kebetulan merupakan bis terakhir. Karena bis terakhir lagi2 supir menaikan ongkosnya. Didalam bis, rupanya ada solo backpacker wanita asal china. Dia baru saja turun dari gunung Merapi. Karena dia duduk di belakang dekat dengan teman2 saya, kemudian mereka pun ngobrol dengan bahasa inggris pas2an.

borobudur

                Satu hal yang lucu adalah ketika pengamen masuk, tiba2 dia nanya apa pekerjaan orang itu. Rupanya menurut turis itu di China tidak ada pengamen sehingga dia takjub dan segera fotoin sang pengamen. Si pengamen pun nurut aja sambil bergaya. Ditengah perjalan, rupanya turis china itu ingin segera ke Jakarta, kebetulan kami pun ingin mampir ke Lempuyangan untuk beli tiket balik ke Jakarta. Sesampainya di Lempuyangan, 3 orang teman saya menemani turis itu sedangkan saya dan rekan2 lain siap2 pulang ke penginapan. Esoknya temen saya cerita turis itu ternyata suka sayur nangka di warteg dan kaget setelah tau harganya yang murah meriah. Di China kata dia jarang ada buah nangka.

Keesokan harinya kami siap2 untuk tur sejarah yaitu masuk ke dalam keraton jogja. Sebelum ke keraton kami mampir dulu ke took bakpia untuk oleh2. Kami kesana dengan naek becak, setelah sepakat harga kami pun ke toko bakpia dan menuju keraton. Sesampainya di keraton, abang becaknya menaikan ongkos lagi, teman saya yang kesal langsung melempar uang sambil sumpah serapah. Saya pun kesal jg karena lagi2 diperlakukan seperti itu. Setelah beli tiket kami pun masuk ke dalam keraton, sayangnya hampir mayoritas yang datang adalah turis asing. Padahal di dalam keraton cukup indah dan banyak unsur historisnya.

keraton jogja

                Setelah dari keraton kami mengunjungi pasar Beringharjo untuk cuci mata. Sebelum masuk kami diperingati oleh warga sekitar bahwa didalam pasar rawan copet. Kami pun segera waspada dan masuk secara berkelompok. Saya pun beli celana batik dan baju dalang titipan om saya, sementara teman saya yang lain asyik pula berbelanja. Sebenarnya saya agak males beli batik dikarenakan Nenek saya adalah orang Pekalongan dan Ibu saya terkadang beli batik langsung dari kerabat saya. Setelah puas belanja kami pun pulang ke penginapan dan beres2 karena malamnya kami akan segera pulang ke Jakarta.

Sampai saat ini, jika mendengar lagu Yogyakarta kla-project , memori saya langsung terbang menuju tahun 2009. Jujur jogja itu mempunyai suasanga yang bikin kangen. Terlepas dari segala hal negatif tentang ongkos yang dimahalin dan sebagainya, saya tetap berkeinginan untuk mengunjungi jogja suatu waktu. Tentu saja harapan saya agar jika ke Jogja lagi bisa lebih nyaman daripada sebelumnya.

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu

(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali) Oh…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati) Oh… Tak terobati

Musisi jalanan mulai beraksi, oh…
Merintih sendiri, di tengah deru, hey”

(Kla Project – Yogyakarta)

12 responses to “Lika liku travelling di Jogja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s