Aroma dan Kuliner khas Dieng

Akhir tahun 2009, saya mendapat pengalaman mengasyikan yaitu Kuliah Lapang sekaligus wisata ke Dataran Tinggi Dieng, di Wonosobo, Jawa Tengah.  Alasan pemilihannya cukup akademis, karena di daerah dieng diindikasikan telah terjadi erosi yang cukup parah. Oleh karena itu kami di bagi menjadi 4 kelompok besar, yaitu kelompok yang membahas hidrologi, pertanian, social ekonomi, dan erosi itu sendiri. Saya kebetulan dapat kelompok yang membahas kondisi social-ekonomi.

Setelah persiapan yang cukup lama, hari-H pun datang. Kebetulan ada seorang teman saya yang asli dari Wonosobo sehingga memudahkan perizinan. Kami menginap di suatu tempat semacam mess pemda di Kota Wonosobo. Tugas kelompok saya yaitu mewawancarai penduduk untuk mendapatkan data. Satu hal yang saya salut adalah sambutan penduduk yang ramah, hampir tiap saya mampir disambut dengan “teh manis” dan cemilan. Lucunya selama kurang lebih 3 hari kami jd sering mampir di wc umum (karena cuaca disana yang dingin) untuk pipis.

Bagi saya, sambutan warga Wonosobo adalah yang palin ramah yang pernah saya alami.  Saya pernah ke pelosok Ujungkulon, Karanganyar, keliling Sumsel, dan beberapa tempat lainnya tidak pernah mendapat keramahan yang sebaik di Wonosobo. Mungkin inilah yang membuat turis asing menganggap Indonesia  sebagai Negara yang ramah (khususnya di daerah pedesaan), atau mungkin karena yang sejak lahir berada di Ibukota yang cukup “keras” sehingga keramahan penduduk adalah hal yang jarang saya nikmati :pkawah sikidang - dieng plateau theatretelaga warna

Hari terakhir diisi dengan wisata, kebetulan kami menyewa bis kecil sehingga memudahkan akomodasi kami. Tujuan pertama adalah Dieng Plateau Theatre. Sayangnya, ketika kami datang tempat tsb sedang mati lampu (Indonesia banget hahaha). Lalu kami pun beranjak ke wisata berikutnya yaitu Telaga Warna. Kami pun takjub dengan pemandangan telaga berwarna biru, dengan bau belerang yang tidak terlalu menyengat. Yang saya sukai disini karena pepohonan masih cukup rindang sehingga nyaman untuk dinikmati. Setelah itu kami menuju ke kompleks Candi Arjuna, walau tidak sebesar Prambanan, tapi cukup oke untuk dilihat. Lalu tujuan selanjutnya adalah kawah Sikidang, kawah ini masih mengeluarkan cairan belerang dan uap yang banyak.

candi arjuno

Sepulang dari berwisata, saya dan beberapa teman nekat untuk berpisah dari rombongan. Alasannya sederhana yaitu ingin wisata kuliner. Kebetulan di tengah perjalanan kami melihat ada restoran cukup modern yang menjual Mie Ongklok dan Carica Dieng. Dua kuliner ini adalah khas Wonosobo. Kami pun masuk dan segera memesan kuliner khas tersebut. Setelah dicicipi, rasanya ueeenaaaak tenan. Di Wonosobo pun ada perkebunan teh yang bernama “Teh Tambi” yang tidak dijual di Indonesia melainkan langsung di eksport ke Luar Negeri. Saya beruntung ada teman yang dapat 1 bungkus besar teh dari petani local, rasanya pun berbeda dengan teh secara umumnya.

kuliner

Catatan dari saya adalah dulunya kawasan Dieng ramai oleh turis local dan mancanegara. Tapi setelah  petani dikenalkan dengan tanaman “kentang”. Maka berbondong-bononglah petani setempat menanam kentang. Efek buruknya adalah pemberian pupuk untuk kentang itu menggunakan pupuk kandang. Hal ini sangat menggangu bagi saya, jadi sepanjang perjalanan terkadang kami mencium aroma “tele’ ayam”. Bisa dibayangkan jika anda turis asing mencium wewangian tersebut pastinya akan merasa tidak nyaman. Saya berpikir positif, mungkin saja saat itu pemda sedang focus terhadap pertanian sehingga aspek untuk mendatangkan rupiah dari pariwisata diabaikan sementara.

6 responses to “Aroma dan Kuliner khas Dieng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s